sepanjang jalan Bandung, Lembang, Subang, dan Pamanukan(?).

“Dimi, nanti sore ada latian futsal, lawan akuntansi 2007, jangan lupa yah.”

“Siaaap!”

Ketua angkatan gua emang bertanggung jawab, dia mengingatkan anggota angkatannya untuk latihan. Kebetulan juga, gua lumayan bisa main futsal, kalo cuma sekedar nendang sama ngoper sih masalah sepele, bukan masalah maradona. Gua berempat juga terkenal sebagai pasukan hura-hura sekaligus huru-hara.

“Mau kemana dulu nih kita? Makan?” Awan mengajak. Soalnya kalo dia balik ke kosannya, pasti ujung-ujungnya tidur.

“Bebas sih, gua bispak,” jawab Menez.

Akhirnya gua berempat menunggu di tempat makan roti bakar Caniago di dekat kampus. Merencanakan apa yang akan dilakukan nanti.

“Gua mau ngerusuhin ah, biar seru,” Aril menjelaskan kemauannya.

“Heee, yaudah, siapa takut.” Seretak kami bertiga setuju.

Sekarang sekitar jam enam malam, kami berempat dengan semangat huru-hara langsung tancap gas menuju tempat yang akan dijadikan perkara, di daerah kampus YPKP. Kami menggunakan mobilnya Awan. Kami datang sedikit telat, bak pasukan asli huru-hara, kami berjalan dengan membusungkan dada, sedikit memasang tampang ngocol. Lapangan terlihat sangat sepi, gak ada sama sekali anak akuntansi 2007 yang datang.

“Anak akunnya gak ada?” tanya aril.

“gak datang, takut mungkin,” Melki, si ketua angkatan yang menyahut kencang, sambil terus bermain futsal.

“ciiit man, cupu banget sih,” Aril mengeluh sendirian. Akhirnya kami berempat hanya setia melototin latian futsal.

Sekitar jam sembilan latian selesai. Anak-anak yang lain langsung pulang. Cuma tinggal gua berempat disana.

“Nongkrong aja yuk, dimana gitu.” Awan mengusulkan.

“Jangan di Caniago tapi, baru tadi dari sana.”

“Ke Lembang yuk, mau gak?” Jarang banget Awan ngajakin ke Lembang, pasti lagi kenapa-napa.

“Boleh.”

Sesaat kemudian mobil yang gua tumpangi menuju arah Lembang, sedikit sepi, tujuan pertamanya adalah mandi air hangat yang beraroma belerang.

Suasana sangat mencekam ketika memasuki hutan di daerah Gunung Tangkuban Parahu. Nyaris tidak ada lampu di sepanjang jalan, penerangan utama hanya dari lampu mobil. Kiri-kanan gua terlihat banyak pohon yang entah apa namanya, menjulang tinggi. Suasananya, sangat sunyi, gelap, dan mencekam, yang ada hanya suara-suara dengungan aneh, dan samar-samar lagu dari mobil karena di kecilkan.

Nggak kerasa kami sudah sampai di daerah Ciater, banyak orang sekitar yang menjajakan villa untuk menginap. Salah satu tempat pemandian sudah dilewati, yang kedua pun sama. Entah sebenarnya kita ingin menuju kemana. Hawa dingin menyerbu kami berempat. Awan mulai melepas bajunya. Gua, Aril, Menez gak mau kalah, mengikuti kebodohan Awan dengan senyuman.

“Sampe mana ni wan?” gua mulai cemas.

“Gua juga gak tau, ikutin aja dulu jalannya, kayanya gua pernah lewat sini,” jelasnya.

Kami berempat terjebak dalam sebuah pilihan di pertigaan, ada sebuah petunjuk jalan yang sudah gak asing namanya.

“Kalo ke kanan ke Subang, kiri ke Jakarta,” Awan menjelaskan maksud petunjuk itu.

“Gak ada arah ke Bandung apa?” tanya Aril.

“Kayanya sih gak ada kalo dari sini, kalo dari Subang mungkin ada,” jelas Menez yakin.

“Emang lo pernah ke Subang Nez?” Aril menguji pengalaman Menez.

Dengan cepat Awan menjawab, “gua kayanya punya saudara di sana, tancap Bleh.”

Dengan segera kami melanjutkan perjalanan, kali ini menuju Subang. Menez menanyakan keganjilan yang melekat di hatinya, “Hubungan saudara lo sama perjalanan kita apa Wan? Emang Doi mau ke Bandung bareng?”

“Gak tau juga gua, nanti ajak aja, siapa tau Doi mau, kita kerumahnya dulu aja.”

“Berarti lo pernah ke Subang Wan?Ada apa aja disana?” Menez mulai semangat.

“Belom sih, nanti tanya saudara gua aja, oke banget gak tuh?”

“tancap Blay,” Menez menjawab penuh dengan semangat. Gua sama Aril cuma bisa mengikuti roda ban mobil depan, sambil bergaya ala turis, duduk manis, tertawa merasakan kepanikan dalam diri masing-masing.

“Selamat Datang di Kota Subang” kira-kira seperti itu maksud sebuah papan yang terpampang di jalan.

Terlihat suasananya masih sepi, masih dikelilingi oleh pohon-pohon di kiri-kanan jalan. Setelah beberapa lama hanya mengikuti jalan lurus saja, kami menemukan sebuah perempatan, agak ramai disana, sebuah kantor pos polisi, dan beberapa personilnya. Terlihat juga sekumpulan anak muda yang berkumpul, entah sedang melakukan apa. Awan hanya bisa berjalan lurus saja, enggan untuk sekedar belok kiri atau kanan.

“Wan, rumah saudara lo di mana? Kita sudah di Subang nih?” Menez mulai lemes melihat gelagat Awan yang dari tadi cuma jalan lurus aja.

“Santai dong Nez, gua juga lagi nyari ini. Tanya polisi aja yuk, tadi kan diperempatan belakang ada pos polisi.”

“Emang saudara lo polisi juga Wan? Asik dong.” Menez menaruh harapan yang berlebihan.

“Kata siapa? Saudara gua mah warga sipil biasa, disini doi juga ngontrak kalo nggak ngekost, gua juga rada lupa lagi namanya, apalagi mukanya.”

Alhasil, dengan kebodohan seorang Awan kami sepakat bahwa kami sedang tersesat di kota terujung Indonesia.

“Yaudah, kentang banget nih, lanjut ke Marauke aja yuk, mau gak?” Awan semakin menjadi dengan kebedohan kuadratnya.

Serentak kami berempat menyanyikan sebuah lagu, dari Subang sampai Marauke, sambil menertawai kebodohan kami berempat. Kami berhenti di sebuah warung yang berjarak beberapa meter dari papan yang bertuliskan “Selamat Jalan”, sekedar untuk membeli rokok dan air mineral.

Punteun Bapak.” Gua yang turun untuk membeli, bertanya pada Bapak penjaga warung.

“Ya den, kunanaon?”

“Ini masih Subang kan Pak?”

“Iya den, ada apa emangnya malam-malam gini? Mau kemana emang si Aden?”

“Ada yang nyasar Pak. Kalo saya sih mau ke Bandung, udah gak betah di sini.”

“Siapa Den yang nyasar?”

“Itu Pak, temen saya yang lagi nyupir, namanya Awan. Kalo lurus terus, itu ke daerah mana ya Pak?”

“sekitar tiga kilo meter lagi Pamanukan Den.”

“Dim, coba tanyain saudara gua, siapa tau orangnya kenal!” Awan berteriak dari dalam mobil. Gua cuma bisa memaksakan senyum ke arahnya.

“Sebentar ya pak, saya mau nanya teman saya dulu, maunya gimana.”

Akhirnya kami berempat sepakat untuk balik lagi ke warung tadi setelah menemukan plang bertuliskan “Selamat Datang di Pamanukan”.

Punteun lagi Bapak.”

“Ya den, ada apa lagi?”

“Ada yang nyasar lagi Pak. Teman saya, sama lagi orangnya. Kalo boleh tau Pak, kalo ke Bandung lewat mana ya Pak?”

“Dari sini mah tinggal lurus aja Den, ke arah sana.” Bapak penjaga warung menunjukkan arah dengan jempol kakinya.

“Emangnya Aden dari mana? Kok bisa nyasar?”

“Saya dari Bandung Pak, berempat, saya sih gak nyasar, yang nyasar teman saya Pak, yang itu, kan tadi sudah saya kasi tahu orangnya.” Gua kembali nunjuk Awan.

“Sama aja atu mah Den.”

Akhirnya, setelah melewati perjalanan lurus yang panjang, melewati jalan yang sama, hutan yang sama, Gunung Tangkuban Parahu yang sama, kota Lembang yang sama, malam yang sama, kami sampai di kota Bandung, bersepkat tidur bersama di kamar toilet bersama.

About this entry